MENOLAK LUPA: Menelusuri Jejak Sejarah Tugu Monumen Perjuangan Rakyat dan Batalyon Siluman Merah A3W Divis
RANCABALI || KABUPTEN BANDUNG, BALANCENEWS – Siliwangi di Tengah Keindahan Ranca Upas – Kawasan wisata alam Ranca Upas yang terletak di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, selama ini karib dikenal masyarakat luas sebagai destinasi wisata favorit untuk berkemah, menikmati pemandian air panas, dan berinteraksi di penangkaran rusa.
Namun, di balik rimbunnya pepohonan dan dinginnya kabut pegunungan, tanah Ranca Upas menyimpan rekam jejak perjuangan bersenjata yang sangat heroik.
Di tengah-tengah kawasan wisata tersebut, berdiri kokoh Tugu Monumen Perjuangan Rakyat dan Batalyon Siluman Merah A3W Divisi Siliwangi.
Monumen ini menjadi simbol patriotisme sekaligus pengingat penting bagi generasi masa kini agar tidak sekali-kali meninggalkan sejarah (Jasmerah).
Sejarah Pendirian Monumen
Berdasarkan batu prasasti peresmian yang terukir pada monumen. peletakan batu pertama pembangunan tugu ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 29 Agustus 2020.
Pembangunan monumen bersejarah ini mengusung semangat “Sabilulungan untuk Negeri, Bersama Rakyat TNI Kuat”.
Prasasti tersebut ditandatangani bersama oleh Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada saat itu, Marsekal Madya TNI Kisenda Wiranatakusumah, M.A., dan Bupati Bandung, H. Dadang M. Naser, S.H., S.Ip., M.Ipol.
Mengenal Tokoh Legendaris Letjen TNI Achmad Wiranatakusumah
Monumen ini didedikasikan secara khusus untuk menghormati jasa Letnan Jenderal TNI (Purn.) Achmad Wiranatakusumah, seorang tokoh militer legendaris asal tanah Pasundan.
Relief perunggu yang terpahat indah pada tubuh monumen, menampilkan sosok tegas sang jenderal berdampingan dengan lambang Batalyon Siluman Merah yang ikonik dan berwibawa.
Letjen TNI Achmad Wiranatakusumah tercatat dalam sejarah militer nasional sebagai Pendiri Batalyon Siluman Merah A3W Divisi Siliwangi.
Selain itu, beliau juga merupakan salah satu tokoh Pendiri Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Sekretaris Jenderal Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas), serta perumus Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Amanat Suci dan Penghormatan 730 Kusuma Bangsa Pada bagian depan tugu, terpahat sebuah amanat agung bernada tegas dan menyentuh hati:
“TERUSKAN PERJUANGAN. Kami telah beri apa yang kami punya. ‘Esa hilang dua terbilang, ka jeun pati di medan jurit, batan wirang di pakalangan’. MERDEKA!!! SAMPAI AKHIR ZAMAN.”
Semboyan luhur dalam bahasa Sunda tersebut memiliki makna mendalam: lebih baik mati di medan pertempuran daripada menanggung malu karena kalah atau menyerah di hadapan musuh.
Untuk menghormati para pejuang yang gugur, bagian belakang monumen memuat daftar nama marmer hitam yang sangat panjang. Prasasti tersebut dipersembahkan kepada 730 anggota Batalyon Siluman Merah yang telah bertaruh nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Nama-nama mereka diukir abadi agar generasi penerus tahu bahwa kemerdekaan ini diraih lewat tetesan darah dan pengorbanan tanpa pamrih.
Harapan ke Depan
Keberadaan tugu perjuangan ini di tengah destinasi wisata modern diharapkan dapat menjadi sarana edukasi sejarah (wisata sejarah) bagi para pelancong.
Publikasi dan perawatan monumen ini menjadi hal yang krusial agar nilai-nilai luhur perjuangan Batalyon Siluman Merah A3W Divisi Siliwangi di wilayah Rancabali tetap hidup, lestari, dan semoga tidak pernah terlupakan oleh derasnya arus perkembangan zaman.
Pewarta : Abah Abeng





