Balance News | Kabupaten Cianjur – Anggaran dana hibah dan Bos yang terjadi di wilayah Kab. Bandung Cianjur yang bernaung di bawah. Yayasan Pendidikan Islam Sultan Giri yang bertempat di Kp. Cikawung Desa Talagasari Kecamatan Sindangbarang terkesan menutup nutupi prihal. Adanya tumpang tindih daftar Dapodik siswa di antaranya jumlah yang terdaptar adalah 121 (seratua dua puluh satu) dalam kenyataanya di lapang ada 131 siswa jadi sisa yang tidak sesuai di Dapodik sekolah tersebut masih tersebar di sekolah lainya.
Carut Marutnya SMK Terpadu Sultan Giri Cianjur
Bahkan hanya itu ada juga pemotongan penerimaan dana (PIPL) yang seharuanya untuk kebutuhan sekolah untuk murid justru di potong. Untuk kegiatan lain.
Rabu, Awak media Balancenews.id menayakan kepada Kepala Sekolah SMK Terpadu Sultan Giri Agus Julaeni untuk segera. Di luruskan supaya proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak membingungkan dalam hal administrasi namun kepsek menjawab bahwa itu sudah di ajukan ke operator Dinas Pendidilkan.

Tidak hanya itu awak media menyikapi prihal kwalitas seorang guru pendidik. Disayangkan Agus tidak memberikan jawaban yang jelas terkesan lempar bola, walau dalam kenyataan kepsek pun mengakui bahwa SDM (Sumber Daya Manusia) yang bekerja di bidang tersebut di SMK Terpadu Sultan Giri perlu pembinaan lagi.
“Kalau untuk guru semua itu kebijakan yayasan bukan dinas walaupun guru maupun staf di sini keluarga, karena yang mendirikan sekolah ini adalah yayasan jadi bagaimana pun terserah pihak yayasan” ucap kepsek
Awak Media Balancenews.id
Menanyakan terkait biaya bangunan yang harus di bayar oleh murid, dengan niat ingin mengelabuhi awak media. Kepsek menjawab ” untuk biaya di sini gratis tidak di pungut biaya sepeserpun, Karena sudah di biayai oleh pemerintah.
Tetapi ketika ditanyakan kepada siswa yang bernama Asep kelas X (sepuluh ) mengatakan.
“Kalau untuk biaya di sekolah ini sebesar Rp 200.000.00,- (dua ratus ribu) perbulan dan jika tidak di bayar nanti ijazah nya akan di tahan “katanya
Diduga Adanya Kongkalingkong
“Miris memang kwalitas dunia pendidikan yang ada di Kab. Cianjur apa lagi sebagai kepala sekolah itu seharusnya memberikan contoh tentang kejujuran dan keterbukaan tetapi kenyataanya seperti itu, memberikan pernyataan yang membingungkan bagaikan tidak ingin terendus tentang kebobrokan yayasan maupun sekolah tersebut.
Setiawan





