Balance News | Kab Bandung – Kehadiran badut Doraemon dengan wajah lucu di jalanan atau pun yang datang door to door tentu anak-anak akan senang dengan hiburan yang di suguhkanya.
DIBALIK KECERIAAN BADUT DORA EMON, INI KELUH KESAHNYA
Tapi pernahkah kamu membayangkan orang di balik kostum boneka itu? Benarkah kehidupannya seceria saat dia tampil menjadi seorang badut.
Apalagi kisah mereka sampai memilih memakai kostum badut karakter seperti Doraemon atau Hello Kitty.
Badut Doraemon untuk memasuki daerah perkampungan, harus berjalan cukup jauh untuk menempuhnya. Setiap hari rute yang di datangi nya selalu berpindah-pindah, tidak di satu titik saja.
Iman 23 Tahun
Sosok di balik badut Doraemon itu rupanya seorang anak muda bernama Iman (23), pemuda itu sudah 5 tahun menjalani profesi sebagai badut Doraemon. Dia melakukan pekerjaannya itu untuk mencari rezeki, dan menafkahi istri dan anaknya.
Ketika di hampiri Iman sempat bercerita tentang keluh kisahnya menjadi seorang badut Doraemon, ” iya pak, siapa yang mau jadi badut seperti ini. Keinginan saya dapatkan pekerjaan yang lain, tapi ini pilihan saya untuk menjadi badut”.
Jauh sebelum menjadi pekerja badut karakter Doraemon, pemuda asal Ciherang Kabupaten Bandung ini pernah bekerja di sebuah pameran malam tetapi kan pameran itu bersifat sementara dan berpindah-pindah tempat juga, jadi saya berhenti kerja di situ.
Profesi ngamen jadi badut doraemon
Kemudian dia sudah beberapa kali cari kerjaan lain tapi tak kunjung dapat, dan pilihan terakhirnya iya menjadi seorang badut karakter. Tanpa pandang bulu, pekerjaannya itu iya jalani dengan ikhlas meskipun harus memakai kostum yang tebal dan pastinya sangat panas.
Setiap hari di bawah terik matahari dan di tengah udara penuh debu, dia mesti sekuat tenaga bergoyang-goyang dan melambaikan tangan ke arah pengguna jalan dan anak-anak kecil juga menghampiri dari rumah ke rumah.
Menghiraukan keluhan itu, Iman yang berkeliling dari mulai pukul 11.00 – 18.00 WIB dan juga kostum yang di pakainya sewa dari oranglain. Dia harus bayar sewa sebesar Rp.30 ribu plus dengan speaker yang di bawanya.
Penghasilan menjadi badut tidak sama dengan pekerja kantoran, ada kalanya ketika sedang lebih rezeki Iman membawa pulang uang sebesar Rp. 120 ribu kadang kalau lagi sepi Rp. 20-30 ribu sehari.
Dengan pemberian dari orang-orang ketika saya ngamen, itu merupakan rezeki saya yang harus di terima. “Mau ngasih, atau enggak” ikhlas aja yang penting barokah kalau orang memberikan dengan ikhlas.
Harapan Iman pun muncul ketika itu, inginnya pemerintah membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang seperti saya dan juga adanya modal usaha untuk berjualan. Agar bisa menghidupi keluarga saya dengan berkecukupan layaknya orang lain.
Pewarta : Abenk/BN





