
KOTA BANDUNG || BALANCE NEWS – Proyek Penataan Kabel Optik di Jalan Mohammad Toha di Sorot: Bekas Galian Tak di rapikan, Jalanan Rusak dan Membahayakan.
Proyek penataan dan penurunan kabel udara fiber optik ke bawah tanah di sepanjang Jalan Mohammad Toha hingga kawasan Ciateul, Kota Bandung, memicu keluhan warga.
Selain proses pengerjaan yang di nilai semrawut, kondisi infrastruktur Badan jalan kini mengalami kerusakan serius akibat bekas galian yang tidak di kembalikan ke kondisi semula.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (14/5/2026), permukaan aspal di titik-titik galian tampak hancur dan tidak rata.
Tanah serta puing-puing sisa pengerjaan di biarkan berceceran di bahu jalan, menyebabkan jalur menjadi licin dan berdebu. Kondisi ini di perparah dengan tumpukan material pipa oranye dan kabel yang berserakan belum tertanam, sebagaimana yang teramati dalam foto.
Jalan Rusak dan Abaikan Keselamatan
Warga sekitar dan pengguna jalan mengeluhkan buruknya koordinasi pelaksana dalam mengembalikan fungsi jalan.
“Setelah di gali, pengurukannya terkesan asal-asalan. Jalan jadi bergelombang dan rusak, sangat berbahaya kalau lewat sini malam hari atau saat hujan,” ujar salah satu pengendara yang melintas.
Papan peringatan di lokasi mencantumkan bahwa proyek ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui program. “Jabar Istimewa”, APJATEL, serta sejumlah perusahaan telekomunikasi besar seperti Telkom Indonesia, Moratelindo, FiberStar, dan MyRepublic.
Namun, meski melibatkan banyak instansi besar, aspek pemulihan jalan (reinstatement) tampak di abaikan.
Pengawas “Menghilang” dari Lokasi
Upaya konfirmasi kepada pihak pelaksana proyek, baik CV maupun PT yang bertanggung jawab di lapangan, menemui jalan buntu.
Tidak ada satupun pengawas yang berjaga untuk memberikan penjelasan teknis maupun kepastian mengenai perbaikan jalan.
Seorang pekerja di lokasi mengaku tidak mengetahui keberadaan atasan mereka.
Minimnya kehadiran pengawas di lokasi menimbulkan kesan bahwa pihak kontraktor sengaja menghindari tanggung jawab dan “alergi” terhadap pengawasan dari media maupun masyarakat.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kota Bandung dan pihak terkait untuk segera menegur kontraktor pelaksana.
Warga menuntut agar bekas galian segera di aspal kembali dengan layak guna menghindari jatuhnya korban jiwa akibat infrastruktur yang rusak demi kepentingan komersial semata.
Pewarta: AAbeng




