Balance News || Kab. Bandung – Program MBG Dikeluhkan, Orangtua Pertanyakan Kualiatas Menu Yang Di Sajikan. Padahal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang di rancang untuk mendukung gizi anak-anak di Kabupaten Bandung, justru menuai keluhan dari sejumlah murid SD.
Program MBG Di keluhkan, Orangtua Pertanyakan Kualiatas Menu Yang Di Sajikan
Menu makanan yang di sediakan terdiri dari sayur tauge, rolade, tahu dan pisang, namun menu tersebut membuat murid SD yang berada di Kecamatan Ciwidey merasa tidak berselera karna nasi dan sayurnya pun agak basi.
Keterangan Salahsatu Orangtua Murid
Insiden ini terjadi pada Selasa (15/04/2025) pada saat para murid beristirahat, salah satu orangtua murid DD (50) mengutarakan kekecewaannya “sangat di sayangkan menu yang diberikan pada anak-anak tidak layak konsumsi seperti nasi dan sayur agak basi” sehingga para siswa pun enggan menyantap MBG tersebut.
Menurut DD, mengakui was-was apabila makanan yang di berikan seperti itu karna banyak kejadian efeknya keracunan. Jika hal seperti itu siapa yang akan di salahkan. “Namanya juga orangtua pastinya khawatir”, jelasnya.
Sangat di sayangkan jika menu MBG tidak berstandar, padahal pihak sekolah harusnya memeriksa terlebih dulu makanannya layak makan atau tidak. Jika seperti itu, tentunya makanan pun akan mubajir, karna tidak termakan sama sekali.
Tujuan MBG
Padahal tujuan dari program MBG meningkatkan kesehatan masyarakat, Mencegah stunting, Memberdayakan UMKM, Meningkatkan ekonomi daerah. Membangun sumber daya manusia (SDM) bermutu dan berdaya saing.
Tetapi fakta di lapangan program MBG tersebut banyak di keluhkan oleh masyarakat, dalam hal ini di duga lemahnya pengawasan dari Dinas terkait.
Baca Juga : Pembangunan Alfamart Di Desa Nengkelan Tuai Pro Kontra, Banyak Pihak Pertanyakan Izinnya
Tanggapan PPG Kecamatan Ciwidey
Sementara dari pihak petugas Pusat Pemulihan Gizi (PPG) Kecamatan Ciwidey, Sandra menanggapi keluhan tersebut “ Referensi awal pembuatan menu itu. Menu sehari-hari yang notabenenya di siapkan oleh orangtua murid. Dan di bagikan selama 1 minggu, lalu kami melakukan survey kepuasan atau kuisoner kepada murid-murid dan mencari menu yang paling di sukai atau tidak”.
Data yang di himpun tersebut kita jadikan acuan pembuatan menu berikutnya mana menu yang akan di masak kembali atau tidak. Dan tetap mengikuti standar gizi kebutuhan atau AKG masing-masing umur. Jelas Sandra
“Jika pihak PPG bekerja sama dengan para orangtua memberikan menu-menu makanan yang sudah dilakukan survei, kenapa menu tersebut di buat kembali. Jelas- jelas notabene nya para murid tidak suka”. Jangan hanya memandang untung semata, tetapi kualitas pun harus di kedepankan.
Pengawasan Harus Ketat Dan Memaksimalkan Menu MBG
Seharusnya pihak PPG intropeksi dari keluhan para murid, dan lebih memaksimalkan lagi menu MBG untuk para siswa.
Seperti di ketahui, MBG menelan anggaran puluhan triliun rupiah. Oleh karna itu, program ini harus di kelola dengan sangat hati-hati. Jika pengawasan lemah, dana yang besar hanya akan terbuang sia-sia.
Dengan banyaknya keluhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini, agar pihak-pihak terkait bisa mempertimbangan kembali program tersebut. Evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan, agar keluhan pun bisa di koreksi oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Pewarta : Abeng





