Berita Bupati Bandung Disdik Kab Bandung Dunia Pendidikan Gubernur Jabar Kementerian Pendidikan Ombusman

Ombudsman Tegaskan Larangan Sekolah Jual Seragam, Dugaan Praktik Terjadi di SMPN 1 Dayeuhkolot

Ombudsman Tegaskan Larangan Sekolah Jual Seragam, Dugaan Praktik Terjadi di SMPN 1 Dayeuhkolot

KABUPATEN BANDUNG || BALANCENEWS — Menjelang Tahun Ajaran 2026/2027, Ombudsman Republik Indonesia kembali mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar mematuhi aturan terkait pengadaan seragam sekolah.

Sekolah di tegaskan untuk tidak memungut biaya seragam maupun mengarahkan orang tua murid ke penyedia tertentu.

Peringatan keras ini di sampaikan seiring masih di temukannya praktik yang di nilai bertentangan dengan ketentuan menjelang pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

Pernyataan Salah Satu Orangtua siswa

Salah satu orang tua murid berinisial N membenarkan adanya praktik jual beli seragam di SMPN 1 Dayeuhkolot, sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Seragam yang di perjualbelikan di sekolah tersebut meliputi seragam kotak-kotak, olahraga, batik, pangsi atau kebaya, serta pramuka. “Harganya pun terbilang cukup mahal. Awalnya, saya mengira sekolah negeri membebaskan biaya seragam. Namun, ternyata masih harus membayar. Jika pembayaran bisa di cicil, tentu akan lebih baik agar tidak memberatkan orang tua siswa,” ujar N.

Fitry Agustune, S.E., M.Tr.A.P., menyampaikan bahwa persoalan penjualan seragam sekolah terus berulang setiap memasuki tahun ajaran baru. Salah satunya yaitu dugaan praktik penjualan seragam di lingkungan SMPN 1 Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Sekolah tersebut diduga menjual paket seragam seharga Rp1,2 juta untuk beberapa item, meliputi seragam putih-biru, batik, pramuka, pakaian olahraga, pangsi/kebaya, beserta atribut almamater.

Padahal, menurut Fitry, masa SPMB merupakan periode ketika beban ekonomi keluarga meningkat karena orang tua harus menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah anak.

“Karena itu, berbagai kebijakan atau praktik yang justru menambah beban orang tua dan masyarakat harus dicegah sejak awal serta menjadi komitmen seluruh Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan di Jawa Barat,” ujar Fitry, Senin (10/8/2026).

Fitry menegaskan bahwa larangan tersebut tidak hanya berlaku bagi penjualan seragam secara langsung di sekolah. Sekolah juga dilarang mengarahkan peserta didik atau orang tua untuk membeli seragam di toko maupun penyedia tertentu yang di tunjuk.

Praktik semacam itu di nilai melanggar aturan karena membatasi kebebasan masyarakat untuk memperoleh seragam dengan harga yang lebih terjangkau.

Aturan Hukum Pengadaan Seragam

Larangan penjualan seragam sekolah telah di atur secara tegas dalam Pasal 181 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Aturan tersebut menyebutkan bahwa pendidik maupun tenaga kependidikan dilarang menjual pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan.

Ketentuan tersebut di pertegas kembali melalui Pasal 12 ayat (1) juncto Pasal 13 Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022.  Tentang Pakaian Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

“Oleh karena itu, satuan pendidikan wajib mematuhi larangan penjualan seragam, baik secara langsung maupun tidak langsung,” tegas Fitry.

Ia menambahkan bahwa pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, maupun masyarakat memang di perbolehkan membantu pengadaan seragam sekolah. Khususnya bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu. Namun, bantuan tersebut tidak boleh berubah menjadi kewajiban yang membebani orang tua.

Pengawasan Dan Sanksi

“Ombusman meminta kepada daerah melalui Inspektorat untuk meningkatkan pengawasan terhadap seluruh satuan pendidikan”.

Apabila masih di temukan praktik penjualan seragam, kegiatan tersebut harus segera di hentikan dan pihak yang bertanggung jawab. Wajib di kenakan sanksi sesuai aturan.

Masyarakat juga di imbau untuk tidak ragu melaporkan dugaan pelanggaran kepada Dinas Pendidikan, Inspektorat, maupun Ombudsman, dengan jaminan kerahasiaan identitas pelapor.

“Sekolah negeri tidak di perkenankan melakukan pungutan, apalagi jika ada kewajiban pembayaran dengan nominal tertentu dan batas waktu yang di tetapkan,” jelas Fitry.
Fitry juga menekankan bahwa penggunaan nama paguyuban kelas, forum orang tua, atau wadah lainnya tidak menghilangkan status pungutan liar. Jika sifatnya mewajibkan pembayaran.

“Nama wadahnya boleh berbeda, tetapi substansinya yang di lihat. Jika ada kewajiban, ada nominal, dan ada batas waktu pembayaran. Maka itu merupakan pungutan,” tambahnya.

Tanggapan Pihak Sekolah

Sementara itu, Humas SMPN 1 Dayeuhkolot, Dadi, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Senin (10/8/2026), membantah keterlibatan pihak sekolah. Ia menyatakan bahwa pihak sekolah tidak mengelola penjualan seragam.

Pernyataan tersebut berbeda dengan informasi yang di himpun oleh tim investigasi lapangan, yang menduga adanya aktivitas penjualan seragam di lingkungan sekolah tersebut.

Pada Rabu (12/8/2026), awak media kembali mendatangi SMPN 1 Dayeuhkolot untuk meminta konfirmasi dari kepala sekolah. Namun, menurut keterangan salah satu staf tata usaha (TU), kepala sekolah tidak berada di tempat karena sedang melaksanakan dinas luar. Sementara bagian  (Humas) sudah pulang.

Ombudsman menegaskan kembali bahwa bentuk dukungan masyarakat terhadap sekolah harus bersifat sukarela tanpa paksaan, tanpa penetapan nominal, serta tanpa tenggat waktu.

Kepala sekolah di minta aktif mengawasi seluruh kegiatan penghimpunan dana agar SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 berjalan secara transparan, akuntabel, dan bebas dari maladministrasi.

Pewarta : AAbeng
Red-BN

Agus Suhendar

Agus Suhendar

About Author

Agus Suhendar Pendiri & Pemilik PT Sandy Putra Suhendar Mandiri Agus Suhendar adalah wartawan senior kelahiran 1972 yang telah lama berkecimpung di dunia jurnalistik nasional. Ia merupakan pendiri dan pemilik PT Sandy Putra Suhendar Mandiri, perusahaan yang menaungi Balance News serta sejumlah media lainnya. Sebelum mendirikan perusahaan media, Agus Suhendar aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, serta lembaga pemerhati kebijakan pemerintah dan pemberantasan korupsi. Pengalaman tersebut membentuk perspektif kritis dan komitmen kuat terhadap nilai transparansi, akuntabilitas, dan kepentingan publik. Melalui media-media yang dikelolanya, Agus Suhendar mendorong praktik jurnalisme berimbang, independen, dan investigatif, serta menempatkan pers sebagai pilar kontrol sosial dalam kehidupan demokrasi. Ia juga berperan aktif dalam pembinaan jurnalis dan penguatan etika profesi pers. PT. Sandy Putra Suhendar resmi didirikan untuk menaunginya. Pada tahun 2017 Agus Suhendar memutuskan untuk mendirikan perusahaan medianya sendiri. Agus kemudian mendirikan situs web portal Balance News. Hingga tahun 2018, PT. Sandy Putra Suhendar resmi didirikan untuk menaunginya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Berita Serupa

Ajang Bisnis Program BNPT
Bantuan Sosial Berita

Program BPNT Oleh Bulog Di Jadikan Ajang Bisnis

Balance News | Bandung – Ajang Bisnis Program BNPT sepertinya sudah bukan menjadi rahasia umum lagi di duga, adanya pemasok
pembuatan folder air
Berita Sosial

Pembuatan Folder Air di Wilayah Bojongsoang Menuai Pro dan Kontra

Balance News | Kab Bandung – Proyek pembuatan Folder Air yang berada di wilayah leuwi bandung Desa Citeureup Kec Bojongsoang